Puncak Jaas, Trenggalek

Tidak ada niat untuk menuju puncak ini atau mendaki kecil kesini. Awalnya kampus kami dapat undangan untuk menghadiri peresmian tugu moon love oleh pecinta alam seluruh Trenggalek. Pukul 19.00 tepat kami gas mobil yang kami sewa meluncur ke arah Trenggalek setelah breafing di sekretariat kampus.
Tepat pukul 00.00 tepatnya kami sampai di sekre panitia dan melakukan registrasi. Setelah itu kami istirahat sampai pukul 05.00 pagi dan mulai memasak apa adanya untuk mengisi kekosongan perut. Pukul 07.00 kami breafing lagi bersama semua tim untuk membahas rute juga lainnya.
Kami berjalan menyusuri perkampungan naik turun bukit dan melewati sungai juga persawahan, tepat pukul 10.00 kami sudah sampai puncak, dan memang terdapat sebuah tugu mereka menyebutnya dengan sebutan tugu moon love, hanya 303 mdpl ketinggiannya.
Mengkin menurut kalian kecil tapi menurut saya untuk sampai puncak sini kita hanya berpegang pada seutas tali dan itu sangat berbahaya apalagi tidak ada body safety, pijakan batu yang licin dan tanah basah kita harus melewati itu semua. Kita harus tau mana titik poin aman pijakan kita. Setelah melewati jalanan yang kurang lebih 80 derajat tingkat kecuramannya kami semua berhasil sampai puncak. Setelah berfoto ria saya dan teman melanjutkan perjalanan melewati perkampungan lagi, hingga semak belukar dan kita harus menunduk jika melewati situ, tidak hanya semak tapi semak itu berduri, warga setempat menyebutnya dengan duri asmara, tidak tau asal mula nama tersebut.
Hingga kami berjalan sampai perkebunan teh warga, karna aksesnya terlalu jauh saya dan Ana memutuskan naik mobil sayuran milik warga dan teman-teman saya cowok memilih berjalan jauh sampai sekretariat panitia. Ketika semua sampai hujan mengguyur sekretariat, karna kita membawa mobil jadi aman pulang ke Mojokerto. Dan sampai di Kampus tepat pukul 00.00 kami memutuskan untuk tertidur di sekretariat kampus, dan memilih pulang keesokan paginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Gunung Kelud Melukai Kakiku

Es Janggelan atau Cincau Hitam?

Kue Pasung dalam Mitoni Adat Jawa